Senin, 01 Juli 2013

Makalah Analisis Kesalahan Berbahasa


MAKALAH
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Kalimat Rancu dalam Wacana Media Massa

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
            Manusia mengalami perkembangan dalam hidupnya sesuai dengan era yang ada pada saat itu. Di mana terdapat perubahan zaman, maka akan muncul pemikiran-pemikiran yang baru. Begitu juga dengan bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang hidup bahasa Indonesia akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa dan keanekaragaman penuturnya telah mendorong bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, bahasa harus mampu menampung perasaan dan pikiran pemakainya serta mampu menimbulkan adanya saling berinteraksi antara penutur dan mitra tutur.
            Bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Semua bunyi yang dihasilkan sebagai bahasa diatur oleh suatu sistem tertentu, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dalam suatu bahasa, jika orang tersebut menguasai sistemnya dan dilakukan dengan orang lain yang juga menguasai sistem bahasa tersebut.
            Meskipun suatu bahasa sudah diatur dalam sistem tertentu, tetapi masih terdapat kesalahan berbahasa yang banyak kita jumpai. Misalnya, pada artikel-artikel surat kabar atau media massa masih terdapat kalimat rancu dan tidak baku dalam penulisannya. Akibatnya, masyarakat Indonesia banyak yang belum menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengebnai kalimat rancu beserta contoh yang terdapat dalam artikel surat kabar. Kalimat-kalimat rancu tersebut akan dianalisis menurut ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

1.2    Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.       Apa yang dimaksud dengan kalimat rancu?
2.       Bagaimana cara menganalisis kesalahan berbahasa kalimat rancu?
3.       Bagaimana pemakaian kalimat yang baik dan benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

1.3    Tujuan Penulisan
            Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut.
1.      Mengetahui pengertian kalimat rancu?
2.      Mengetahui cara menganalisis kesalahan berbahasa kalimat rancu?
3.      Mengetahui pemakaian kalimat yang baik dan benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kalimat Rancu
            Kalimat rancu adalah kalimat yang susunannya sedemikian rupa sehingga maknanya sulit dipahami dan tidak jelas maksudnya. Kalimat yang sperti ini perlu disunting dan diperbaiki agar enak dibaca dan mudah untuk dipahami.

2.2 Jawa Pos “Atletico Sulit Kejar Empat Besar”.
1.       Ketika jumlah pertandingan terus berkurang, tim rival sekota Real Madrid itu justru kehilangan angka.
Ø  Kalimat tersebut rancu, sebab kata “terus berkurang” seharusnya diganti dengan “semakin berkurang” agar mudah dipahami oleh para pembaca. Biasanya kata “terus” dipakai untuk maksud maju, melaju, bertambah, dan ke depan, bukan dipakai untuk maksud yang mengacu pada berkurang.
Ø  Ketika jumlah pertandingan semakin berkurang, tim rival sekota Real Madrid itu justru kehilangan angka.
2.       Saat dipermalukan Racing Santander dengan skor telak 1-5 kemarin dini hari.
Ø  Kata “dipermalukan”, sebaiknya diganti dengan dikalahkan. Sebab, dalam sebuah pertandingan pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Sedangkan kata dipermalukan bermaksa hiperbola jika dikaitkan dengan sebuah pertandingan suatu cabang olahraga. Kata “dini hari” juga dihilangkan saja.
Ø  Saat dikalahkan Racing Santander dengan skor telak 1-5 kemarin.
3.       Padahal, dalam dua laga sebelumnya, Diego Forlan dkk meraup poin penuh.
Ø  Kata “meraup” poin penuh merupakan kalimat rancu, sebab kata meraup berarti mengambil sesuatu dengan serakah. Kata tersebut tidak cocok jika disandingkan dengan kata poin penuh. Kata yang lebih seuai adalah mendapatkan.
Ø  Padahal, dalam dua laga sebelumnya, Diego Forlan dkk mendapatkan poin penuh.
4.       Termasuk, saat menang 2-1 di kandang Depertivo La Coruna.
Ø  Kata “di kandang” tidak sesuai dengan kalimat yang menyuusunnya, sebab kata kandang lebih tepat digunakan untuk hewan atau binatang. Sedangkan untuk menghubungkan dengan kata Deportivo La Coruna lebih cocok dengan kata di tempat tuan rumah.
Ø  Termasuk, saat menang 2-1 di tempat tuan rumah Depertivo La Coruna.
5.       Hal seperti ini kerap terjadi dalam sepak bola ketika tim yang punya segalanya menghadapi tim yang tengah berjuang menghindari zona degradasi.
Ø  Kata “kerap” tidak baku. Seharusnya diganti dengan kata sering terjadi, agar kalimat tersebut menjadi baik dan benar sesuai dengan EYD.
Ø  Hal seperti ini sering terjadi dalam sepak bola ketika tim yang punya segalanya menghadapi tim yang tengah berjuang menghindari zona degradasi.
6.       Tim berjuluk kapal Selam Kuning tersebut nangkring di posisi kelima dengan 52 poin.
Ø  Kata “nangkring” tidak baku. Seharusnya diganti dengan kata berada, agar kalimat tersebut menjadi baik dan benar sesuai dengan EYD.
Ø  Tim berjuluk kapal Selam Kuning tersebut berada di posisi kelima dengan 52 poin
7.       Setelah menyelesaikan 32 pertandingan, Numancia baru mengemas 28 poin, tertinggal lima angka dari Sporting Gijan yang ada di posisi ke-17 sebagai batas aman degradasi.
Ø  Kata mengemas diganti dengan mengumpulkan agar kalimat tersebut menjadi baku dan tidak rancu.
Ø  Setelah menyelesaikan 32 pertandingan, Numancia baru mengumpulkan 28 poin, tertinggal lima angka dari Sporting Gijan yang ada di posisi ke-17 sebagai batas aman degradasi.

2.3 Jawa Pos “Akhir Pahit Perjalanan Nerazzurri”.
1.      Empat musim terakhir Inter Milan selalu tampil di partai puncak Coppa Italia, tapi musim ini tidak lagi.
Ø   Kata “tapi” tidak baku. Seharusnya diganti dengan kata tetapi, agar kalimat tersebut menjadi baik dan benar sesuai dengan EYD.
Ø  Empat musim terakhir Inter Milan selalu tampil di partai puncak Coppa Italia, tetapi musim ini tidak lagi.
2.      Nerazzurri harus memberikan tempatnya kepada Samdoria lantaran kalah agregat 1-3 di semifinal.
Ø  Kata “lantaran” diganti dengan karena atau sebab, agar mudah dipahami oleh pembaca. Sebab, kalimat tersebut rancu dengan memakai kata lantaran yang biasa dipakai dalam bahasa Daerah.
Ø  Nerazzurri harus memberikan tempatnya kepada Samdoria, sebab kalah agregat 1-3 di semifinal.
3.      Pada second leg semifinal Coppa Italia versus Samdoria, tidak cukup membawa mereka menembus partai puncak.
Ø  Kata “menembus” tidak sesuai dengan kalimat tersebut, sebab kata menembus biasa dipakai untuk benda-benda tajam. Misalnya, panah menembus sasaran, pisau menembus daging ayam. Kata yang sesuai dengan kalimat tersebut adalah untuk mencapai.
Ø  Pada second leg semifinal Coppa Italia versus Samdoria, tidak cukup membawa mereka untuk mencapai partai puncak.
4.      Tim besutan Walter Mazzari itu hanya bertengger di papan tengah.
Ø  Kata “tim besutan” diganti arahan.
Ø  Kata “ bertengger” diganti berada.
Ø  Tim arahan  Walter Mazzari itu hanya berada di papan tengah.
5.      Mereka telah bermain baik dan menang. Tapi sulit mengejar ketertinggalan tiga gol.
Ø  Kata “tapi” tidak baku. Seharusnya diganti dengan kata tetapi, agar kalimat tersebut menjadi baik dan benar sesuai dengan EYD.
Ø  Mereka telah bermain baik dan menang. Tetapi sulit mengejar ketertinggalan tiga gol.

2.4 Suara Merdeka “Evakuasi Korban Situ Gintung Berlanjut”.
1.      Hingga semalam, jumlah korban tewas mencapai 91 orang, sedangkan yang hilang 102 orang.
Ø  Kata “tewas” diganti dengan meninggal saja agar kalimat tersebut lebih enak didengar dan lebih sopan.
Ø  Hingga semalam, jumlah korban meninggal mencapai 91 orang, sedangkan yang hilang 102 orang.
2.      Bayi yang masih mengenakan pempers itu belum diketahui identitasnya itu disemayamkan di posko STIE Ahmad Dahlan.
Ø  Kalimat tersebut rancu, sebab kelebihan kata “itu”. Sebaiknya yang digunakan salah satu dari kata itu tersebut.
Ø  Bayi yang masih mengenakan pempers itu belum diketahui identitasnya disemayamkan di posko STIE Ahmad Dahlan.
3.      Dia menandaskan, proses evakuasi akan terus dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan meskipun cuaca tak bersahabat.
Ø  Kata “tak” tidak baku diganti saja dengan kata tidak.
Ø  Dia menandaskan, proses evakuasi akan terus dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan meskipun cuaca tidak bersahabat.
4.      Keselamatan masyarakat dari ancaman bencana menjadi tanggungjawab pemerintah.
Ø  Penulisan pada kata “tanggungjawab” salah, sebab dirangkai. Padahal menurut ejaan bahasa Indonesia kata tersebut harus dipisah dalam penulisannya.
Ø  Keselamatan masyarakat dari ancaman bencana menjadi tanggung jawab pemerintah.
5.      Yang tak kalah penting, juga harus dibuat sistem informasi yang sistematis sehingga pemerintah bisa segera meresponnya dan masyarakat dapat segera dievakuasi.
Ø  Kata “tak” tidak baku diganti saja dengan kata tidak.
Ø  Yang tidak kalah penting, juga harus dibuat sistem informasi yang sistematis sehingga pemerintah bisa segera meresponnya dan masyarakat dapat segera dievakuasi.

2.5 Radar Kudus “Berbagi Fasilitas Umum Masih Butuh Pembenahan”.
1.      Upaya ini memang tak mudah, namun pada tahun 2008 lalu posisi Kabupaten Grobogan tak lagi begitu mengecewakan.
Ø  Kata “tak” tidak baku diganti saja dengan kata tidak.
Ø  Upaya ini memang tidak mudah, namun pada tahun 2008 lalu posisi Kabupaten Grobogan tidak lagi begitu mengecewakan.
2.  Alhasil, mereka pun akhirnya membuang sampah disembarang tempat.
Ø  Kata “disembarang” tempat harusnya dalam penulisannya dipisah.
Ø  Alhasil, mereka pun akhirnya membuang sampah di sembarang tempat.
3.  Seperti yang terlihat di Terminal Purwodadi, keberadaan tempat sampah masih    sangat minim.
Ø  Kata “di Terminal” harusnya ditulis menggunakan huruf kecil pada awal kata.
Ø  Seperti yang terlihat di terminal Purwodadi, keberadaan tempat sampah masih  sangat minim.

2.6 Kompas “Rusia Berburu Pelatih Bulu Tangkis di Indonesia
1.      Negeri itu tengah mencari pelatih baru bulu tangkis dalam rangka persiapan Olimpiade 2012.
Ø  Kata “tengah” diganti dengan kata sedang, agar menjadi kalimat yang tidak rancu.
Ø  Negeri itu sedang mencari pelatih baru bulu tangkis dalam rangka persiapan Olimpiade 2012.
2.      Setelah anjlok ke urutan ketiga dalam daftar perolehan medali Olimpiade Beijing 2008, Rusia kini mulai menata kembali kekuatan olahraga mereka.
Ø  Kata “anjlok” diganti dengan kata turun.
Ø  Kata “kini” diganti dengan kata sekarang.
Ø  Setelah turun ke urutan ketiga dalam daftar perolehan medali Olimpiade Beijing 2008, Rusia sekarang mulai menata kembali kekuatan olahraga mereka.
3.       Federasi Bulu Tangkis rusia baru saja merampingkan detail program guna mengantar pebulu tangkis mereka naik podium pada 2012.
Ø  Kata “merampungkan” diganti dengan kata menyelesaikan.
Ø  Kata “guna” diganti dengan kata untuk.
Ø  Federasi Bulu Tangkis rusia baru saja merampingkan detail program guna mengantar pebulu tangkis mereka naik podium pada 2012.
4.       Rusia pun kini sibuk mencari pelatih baru berkelas dunia.
Ø  Kata “kini” diganti dengan kata sekarang.
Ø  Rusia pun sekarang sibuk mencari pelatih baru berkelas dunia.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Simpulan yang dapat diambil dari makalah tersebut adalah kita dapat mengetahui maksud dari kalimat rancu. Kita dapat menganalisis kalimat-kalimat rancu yang banyak terdapat dalam surat kabar atau media massa. Pada penulisan berita-berita di surat kabar belum sepenuhnya menggunakan bahasa baku. Masih ada beberapa yang menggunakan bahasa Daerah atau bahasa yang tidak baku dan belum sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Saran
Sebaiknya penulisan artikel maupun berita-berita di surat kabar menggunakan kalimat yang efektif dan menggunakan bahasa baku agar mudah dipahami oleh para pembaca awam dan tidak terkesan rancu dan ambigu. Para wartawan dan jurnalis sebaiknya menguasai tata bahasa baku dan EYD dalam penulisan artikelnya agar bahasa yang ditulis baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Arikel dalam Suara Merdeka, 29 Maret, 2009, hlm. 27.
ATO, “Rusia Berburu Pelatih Bulu Tangkis Indonesia”, Kompas, 10 Desember, 2008, hlm. 28.
A.  Saiful, “Berbagi Fasilitas Umum Masih Buituh Pembenahan”, Radar Kudus, 25 April, 2009, hlm. 5.
Eneste, Pamusuk. 2005. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kusno, B. S. 1990. Problematika Bahasa Indonesia Sebuah Analisis Ptraktis Bahasa Baku. Jakarta: Rineka Cipta.
S. Juan Manuel, “ Atletico Sulit Kejar Empat Besar”, Jawa Pos, 25 April, 2009, hlm. 17.

Pengertian dan Definisi Manajemen Sekolah


PENGERTIAN DAN DEFINISI
Pengertian Manajemen Sekolah

Istilah manajemen sekolah seringkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi ( administrasi merupakan inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi.

Pengertian manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal.

Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu:
1. merencanakan (planning),
2. mengorganisasikan (organizing),
3. mengarahkan (directing),
4. mengkoordinasikan (coordinating),
5. mengawasi (controlling), dan
6. mengevaluasi (evaluation).
Menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manjemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sitemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Tujuan Manajemen Sekolah
 Pada hakekatnya tujuan manajemen sekolah tidak dapat terlepas dari tujuan sekolahsebagai suatu organisasi. Proses manajemen yang baik adalah manakala di dalamnya terdapatkegiatan manajerial yaitu kegiatan yang seyogyanya dilakukan oleh orang-orang yangmempunyai status dan kewenangan sebagai manajer, serta kegiatan operatif yakni kegiatan yangseharusnya diselesaikan oleh para pelaksana lapangan.Dengan demikian, tujuan akhir dari manajemen sekolah adalah membantu memperlancartercapainya tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Kehadiran manajemen dalam prosespersekolahan sebagai salah satu alat untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan.Secara lebih rinci tujuan khusus dilaksanakan manajemen sekolah yang baik agar :pertama, terjadi efektifitas produksi pada setiap jenis dan jenjang pendidikan sehinggan paralulusannya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya, dapat bekerja sesuai denganpengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Kedua, tercapainya efisiensi penggunaan sumber
 
daya dan dana, tidak terjadi pemborosan terhadap waktu, uang, serta yang lainnya. Ketiga, paralulusannya dapt menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat, serta yang keempattwerciptanya kepuasan kerja pada setiap anggota warga sekolah.

Pengertian Manajemen Sekolah
Pada hakikatnya istilah manajemen pendidikan dan manajemen sekolah mempunyai pengertian dan maksud yang sama. Keduanya memang sukar dibedakan, lebih-lebih sering dipakai secara bergantian dalam pengertian yang sama. Apa yang menjadi skop manajemen pendidikan adalah juga merupkan skop atau bidang garapan manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya ditempuh melalui fungsi-fungsi yang sama, yang di ilhami dari teori administrasi dan manajemen pada umumnya.

Menurut James Jr. manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif.

Manajemen pendidikan merupakan suatu usaha bersama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan organisasi yang efisien dan daya guna yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan disekolah.

Ali Imron berpendapat bahwa manajemen pendidikan adalah proses penataan kelembagaan pendidikan, dengan melibatkan sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat non manusia guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Tujuan manajemen pendidikan adalah tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan makin mudah terlihat dan makin tepat program-program-program yang disusun untuk mencapai tujuan yang ditentukan, program itu harus menyeluruh dan ada koordinasi terhadap komponen yang melaksanakan program sekolah.

Proses manajemen pendidikan dimulai dari perencanaan, diteruskan dengan pengorganisasian, penggeraan dan kemudian pengawsan. Proses tersebut berjalan secara siklik, karena begitu proses akhir (pengawasan) telah dilalui, kembali lagi keproses pertama (perencanaan).

Manajemen yang baik ialah manajemen yang tidak jauh menyimpang dari konsep dan yang sesuai dengan obyek yang ditangani serta tempat organisasi itu berada. Sebagai bagian dari suatu ilmu, seharusnya manajemen itu tidak boleh menyimpang dari konsep manajemen yang sudah ada. Namun variasi bisa terjadi akibat kreasi dan inovasi para manajer. Variasi ini berkaitan dengan obyek yang ditangani dan tempat organisasi itu.
Manajemen yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi disebut manajemen yang fleksibel. Manajemen ini tidak kaku, ia dapat berlangsung dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Kebijakan-kebijkan pemerintah yang baru, tuntutan-tuntutan masyarakat yang brubah dari semula, perubahan-perubahan nilai masyarakat, dan sebagainya tidak akan menghentikan aktivitas manajemen ini. Manajemen akan berjalan terus dengan revisi di sana-sini. Hal ini menjamin kelangsungan hidup organisasi. Oleh sebab itu para manajer perlu mengusahakan manajemen agar bersifat fleksibel.

Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan, karena dengan adanya manajemen yang baik maka tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien.

ujuan manajemen sekolah dasar adalah mencapai tujuan institusional sekolah dasar, yaitu  memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota ummat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah. Dengan manajemen sekolah dasar yang baik diharapkan sekolah dasar menjadi lembaga pendidikan yang baik dalam segala aspek.

Fungsi Manajemen

Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:

Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu :
  1. Planning (perencanaan);
  2. Organizing (pengorganisasian);
  3. Actuating (pelaksanaan); dan
  4. Controlling (pengawasan).

 Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi :
  1. Planning (perencanaan);
  2. Organizing (pengorganisasian);
  3. Commanding (pengaturan);
  4. Coordinating (pengkoordinasian); dan
  5. Controlling (pengawasan).

Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup :
  1. Planning (perencanaan);
  2. Organizing (pengorganisasian);
  3. Staffing (penentuan staf);
  4. Directing (pengarahan); dan
  5. Controlling (pengawasan).

L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu :
  1. Planning (perencanaan);
  2. Organizing (pengorganisasian);
  3. Staffing (penentuan staf);
  4. Directing (pengarahan);
  5. Coordinating (pengkoordinasian);
  6. Reporting (pelaporan); dan
  7. Budgeting (penganggaran).

Tujuan Manajemen
Manajemen dalam suatu Sekolah/Madrasah bertujuan untuk :
a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola sumber daya yang ada.
b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.
d. Meningkatkan kompetensi yang sehat dalam sekolah tentang mutu pendidikan yang akan di capai.

Artikel: Fungsi Manajemen Sekolah
Fungsi Manajemen Sekolah
Menurut Percy E. Burrup fungsi-fungsi manajemen pendidikan di sekolah adalah:
a. Merencanakan cara dan langkah-langkah mewujudkan tujuan program sekolah.
b. Mengalokasikan baik sumber daya maupun kegiatan mengajar sehingga masig-masing tahu tugas dan tanggung jawab.
c. Memotifasi dan menstimulir kegiatan staf pengajar sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
d. Mengkoordinir kegiatan anggota staf pengajar dan setiap satuan tugas di sekolah sehingga tenaga dapat digunakan seefektif mungkin.
e. Menilai efektifitas program dan pelaksanaan tugas pengajaran dan tujuan-tujuan sekolah yang ditentukan sudah tercapai apa belum. Dan menilai pertumbuhan kemampuan mengajar tiap guru.

Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut dilaksanakan beberapa fungsi manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang manajemen pendidikan.

Jadi melalui penerapan fungsi manajemen sekolah yang efektif dan efisien diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.



Kamis, 28 Maret 2013

MENULIS KARANGAN DESKRIPSI, TUJUAN PARAGRAF DESKRIPSI



Wiyanto (2004: 64-65, dalam Andriani 2009: 35) mengungkapkan tujuan paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/impersi kepada pembaca terhadap objek, gagasan tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis. Dengan deskripsi yang baik pembaca dapat dibuat seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, atau terlibat dalam peristiwa yang diuraikan penulis.
         Tujuan paragraf deskripsi yang baik harus didasarkan pada pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan dari paragraf deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi (Wagiran dan Doyin 2005: 9).
           Tujuan paragraf deskripsi yang bersifat deskriptif bertujuan memberi gambaran atau penjelasan atas suatu hal. Dengan demikian, tulisan deskriptif yang tampil semakin mendetail normalnya menjadi semakin bagus (Charlie 2006: 26).
           Menurut Kuswilono (2008: 68) tujuan paragraf deskripsi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan.
       Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis paragraf deskripsi merupakan jenis paragraf yang bertujuan untuk melukiskan atau menggambarkan suatu objek melalui pengamatan dari pancaindra ke dalam bentuk tulisan.

MENULIS KARANGAN DESKRIPSI



Kata menulis karangan deskripsi berasal dari kata bahasa Latin describere yang berarti menggambarkan atau memerikan suatu hal. Menurut Keraf (1995: 16) wacana deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang, atau sensasi.
                Menulis Karangan Deskripsi menurut Faizah (2001: 37, dalam Firmansyah 2009: 21) mengungkapkan bahwa pengembangan paragraf dengan pola pengembangan deskripsi adalah pengembangan dengan menggambarkan sesuatu hal dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. Penggambaran itu bertujuan supaya pembaca dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai apa yang dipaparkan.
                 Menulis Karangan Deskripsi menurut Sudiati dan Widyamartayasa (2005: 57), paragraf yang beretorika deskripsi itu dapat kita sebut paragraf deskripsi atau lukisan. Deskripsi tidak hanya dipakai untuk menggambarkan barang maujud, tetapi juga menggambarkan barang-barang yang tak maujud dan yang kompleks.
                  Menulis Karangan Deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan sesutau sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengan citra penulisnya (Suparno dan Yunus 2007: 4.6).
                 Menulis Karangan deskripsi ialah tulisan yang berusaha memberikan perincian atau melukiskan dan mengemukakan objek yang sedang dibicarakan (seperti orang, tempat, suasana, atau hal yang lain) (Mrjamyas 2009).
                 Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa paragraf deskripsi merupakan jenis paragraf yang menggambarkan atau melukiskan suatu objek melalui pancaindra ke dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut juga melibatkan perasaan dari penulis, sehingga pembaca merasa terlibat dalam peristiwa atau objek yang sedang diuraikan oleh penulis. (Suaidah)